Keutamaan Wafat pada Hari Jumat


 Ada banyak keutamaan yang terkandung pada hari Jumat. Salah satunya, adalah sebagaimana hadits berikut: (مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ القَبْرِ) “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”

Oleh: MB Setiawan

Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa imam hadits: Tirmidzi dan Ahmad. Hadits dalam kitab Sunan Tirmidzi, di-hassan-kan oleh Syekh Al-Bani. Sementara yang dalam riwayat Musnad Ahmad, diterangkan oleh Syekh Syu’aib Aranauthi bahwa dalam sanad periwayatannya ada yang dha’if (lemah).

Dalam catatan akhirnya, beliau juga mengungkapkan, “Memang ada hadits-hadits lain yang menguatkan makna hadits tersebut, hanya saja semua lemah dan tidak bisa menjadi penguat. Status Hassan yang diberikan Syekh Albani ada kekeliruan karena beliau mengikuti penetapan Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul-Ahwadzi (penjelasan dari kitab Sunan Tirmidzi).”

Setelah diketahui kedudukan hadits tersebut, selanjutnya akan diterangkan penjelasan ulama tentangnya. Dalam kitab “at-Taisiir Bisyarhi al-Jaami’ ash-Shaghiir” (1998: II/368) disebutkan bahwa maknanya muslim yang wafat pada hari Jum’at atau malamnya, maka akan dilindungi dari fitnah kubur, yakni tidak ditanya di dalam kuburnya pada siang hari dan malamnya karena besarnya rahmat Allah pada hari itu.”

Sedangkan dalam kitab “Faidhul-Qadiir” (Zainudin al-Manawi, V: 499) ada tambahan penjelasan bahwa alasan dilindunginya orang yang wafat pada hari atau malam Jum’at karena pada hari itu tidak dinyalakan neraka Jahannam dan pintunya pun ditutup. Di samping itu, penjaga neraka tidak melakukan aktivitas sebagaimana di hari-hari lainnya. Maka, ketika ada orang meninggal pas hari Jum’at, itu menjadi tanda kebahagiaannya dan akan mendapatkan tempat kembali yang baik di akhirat.

Terlepas dari lemah atau tidaknya hadits tersebut, yang pasti, masalah kematian serta buruk dan tidaknya nasib seseorang ketika di akhirat, semuanya mutlak prerogatif Allah. Sekalipun hadits itu kuat dan bisa dipakai pun, tetap saja itu hanya pertanda yang hanya Allah yang lebih mengerti hakikatnya.

Jika dibaca hadits-hadits Nabi mengenai kematian, hal utama yang sering diingatkan adalah agar ia dijadikan penasihat yang membuat seseorang tidak lalai dari visinya sebagai hamba Allah serta menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi di akhirat.

Tidak berlebihan jika Nabi pernah mengingatkan:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Cerdas tidaknya hamba Allah tidak terutama karena ia mengetahui kapan mati dan di hari apa wafat, tapi sejauh mana dia bisa mempersiapkan diri dan beramal untuk akhirat. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang hidupnya untuk melampiaskan hawa nafsu dan dipenuhi angan-angan kepada Allah. Ini persis semboyan, “Kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.”

Kalau sebelum wafat taubat nashuha, kemungkinan besar bisa, tapi, kalau ini sekadar angan-angan, dan diambil yang enak-enaknya saja, maka persis seperti peribahasa: “Bagai pungguk merindukan bulan” atau “bagai memeluk gunung apa daya tangan tak sampai.” (Aza)