Terlanjur Cinta, Bolehkah Menikahi Wanita yang Tidak Perawan? Buya Yahya: Kalau Tidak Bisa Tutup Aib, Jangan

 


 Tentu semua pria menginginkan agar bisa menikahi wanita yang masih perawan alias belum pernah melakukan perbuatan zina.

Namun, masih banyak dari umat Islam, terutama kaum pria yang kebingungan soal sah atau tidaknya sebuah pernikahan jika wanita yang dinikahinya ternyata sudah tidak perawan lagi alias pernah berzina dengan pria lain.

Ada dua kategori wanita yang tidak perawan, yaitu karena berstatus janda atau pernah berzina.

Yang akan dibahas pada artikel ini adalah bagaimana hukum menikahi wanita yang tidak perawan karena zina.

Pertanyaan itulah yang dijawab oleh Buya Yahya dalam sebuah kesempatan.

Dalam sebuah majelis, Buya Yahya mendapatkan pertanyaan dari seorang jamaah terkait boleh tidaknya menikahi seorang wanita yang dicintai tetapi sudah tidak perawan lagi.

Lalu bagaimana pandangan mengenai Hukum Menikahi Wanita Tidak Perawan?

"Buya, saya mau bertanya tentang seorang wanita yang saya cintai tapi dia sudah kehilangan kesuciannya sama ornag lain, sedangkan saya sudah mulai mencintainya dan langkah apakah yang harus saya lakukan, apakah harus terus lanjut ataukah harus mundur? tanya seorang jamaah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Buya Yahya memberikan pandangan tentang pernikahan, dimana dalam hubungan membangun hubungan rumah tangga baik suami dan Istri harus benar-benar memilih mau melakukannya bukan dengan terpaksa.

"Di dalam menikah, menjalin hubungan itu harus memilih bukan dengan terpaksa, karena menjalani hidup dnegan terpaksa itu tidak indah, paksaan itu halus, cinta itu memaksa, kalau sudah mencintai itu sudah tidak mengerti apakah itu itam, coklat, atau kuning, gula jawa rasa coklat, gak bisa memilihi", ujar Buya yahya sembari memberi analogi.

Buya Yahya juga menjelaskan jika sebenarnya sebelum orang jatuh cinta, dia bisa memilih terlebih dahulu soal pasangannya.

Dimana seharunya orang harus mempertimbangkan dahulu tentang siapa yang ingin dia jalin hubungan, tidak mendahulukan kesenangannya dan terjebak dengan cinta.

"Sebelum jatuh pada Cinta tersebut, orang bisa memilih, kapan aku harus menolak cinta tersebut, sederhana, nabi pernah menganjurkan tentang bagaimana memilih dahulu baru setelahnya cinta, karena cinta itu tidak serta merta", ungkap Buya Yahya.

"Tidak ada orang yang jatuh cinta itu to the point, pasti melihat wataknya, karakternya, sering ngobrol, kadang terikat dengan janji-janji, dan cara seperti itu tidak benar, karena jika sudah jatuh cinta yang ditentang bukan hanya dirinya sendiri tetapi juga Allah, sehingga rela melakukan perzinahan, dan lain-lain", imbuhnya.

Kembali pada pertanyaan apakah boleh rela menikahi seorang perempuan yang sudah tidak perawan lagi.

Buya Yahya memberikan perumpaan pada suatu kasus untuk orang yang tidak berpacaran, dimana seorang pria yang telah menemukan calon pasangan yakni seorang wanita yang mempunyai masa lalu kelam.

Disini Buya Yahya menjawab jika menanyakan masa lalu ataupun aib itu hukumnya "Haram".

"Ketika Anda seorang pria dan menukan seorang wanita yang memiliki masa lalu kelam, yang pertama Anda tidak boleh ingin tahu masa lalu seseorang, Haram hukumnya, masa lalu dosa kepada Allah dan tidak boleh dipertanyaan, itu namanya menuduh", ungkap Buya Yahya.

"Kalau ada orang bertanya apakah engkau pernah berzina dan pakai sumpah maka jangan dijawab."

"Kita tidak boleh bertanya tentang masa lalu seseorang tentang perzinahan, dosa, dan lain sebagainya, yang jelas jika Ada seseorang yang sudah pernah terpeleset atau berzina maka jngan diceritakan ke calon pasangan."

"Hei hamba yang pernah terpeleset, Anda tidak usah bercerita, biarkan urusanmu dengan Allah yang Maha Pengampun, dan urusanmu dengan pasanganmu ialah urusanku, seperti orang yang suci bersih, jangan sampai pasangnmu punya prasangka buruk padamu, ini ilmu," ungkap BUya Yahya.

Buya Yahya juga menjelaskan tentang bagaimana jika suatu ketika seseorang telah mengetahui soal pasangannya yang pernah berzina.

"Jika sudah mengetahui pasanganmu berzina, maka dilihat kalau memang akhlaknya baik, maka yang lalu biarlah berlalu, dan Anda bisa berjanji untuk menikahi dia dan tidak akan mempermasalahkan masa lalunya dalam keadaan apapun, maka nikahi dia, tetapi jika tidak mampu maka jangan nikahi dia, biarkan wanita tersebut dengan laki-laki lain yang tidak tahu jika dia pernah berzina."

"Mangkannya kalau ada seseorang laki-laki pernah menzinahi seorang wanita, atau seorang wanita pernah dizinahi seorang alki-laki, maka dihimbau untuk tidak saling menikah, supaya tidak ada masa lalu kotor di dalam rumah tangga tersebut."

"Alangkah indahnya setelah itu, jika laki-laki yang pernah menzinahi wanita tersebut menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui jika dirinya tidak mengetahui laki-laki tersebut pernah berzina, berarti pandangannya positif, begitupun sebaliknya."

"Tapi kalau Anda orang yang Sholeh, punya proyek besar untuk menyelamatkan dia yang pernah terpeleset dalam berzina dan siap mengangkat martabatnya serta menjaga dia, Anda bisa menutub aibnya keluarga besar, dan memang memang orang yang kuat ilmunya, maka Anda orang yang istimewa."

"Istimewa Anda karena bisa menutub AIb, maka Allah akan menutup Aib Anda sampai ke keturunan Anda, InsyaAllah, tapi kalau Anda kebiasaannya mengungkap Aib-nya orang, maka Allah akan buka Aib Anda, Naudzubillah."

Lalu jika sudah tahu pasangan kita sudah pernah berzina apakah boleh dilanjutkan atau tidak, Buya Yahya pun memberikan nasehat tegasnya.

"Kalau dia wanita yang baik Solehah dan Anda bakal mampu untuk menutup Aib-nya sampai mati, Anda boleh melangkah lebih jauh, dan jangan lama-lama karena sudah ada tanda-tanda cinta, kalau tidak segera, dia pernah berzina di masa lalu maka yang kedua bisa dengan Anda, maka segera nikahi dia. Tetapi jika tidak bisa maka jangan diteruskan," tutup Buya Yahya.

Itulah penjelasan Buya Yahya terkait boleh tidaknya seseorang menikahi seorang wanita yang sudah tidak perawan lagi.

Semoga kata-kata Buya Yahya bisa memberikan pandangan kepada Anda dan semoga artikel ini bisa turut memberikan manfaat.***

(David Tomi Anggara/ Kabar Lumajang)