Gus Baha: Jangan Hina Tuhan Agama Lain Jika Tuhan Agamamu Tidak Ingin Dihina, Itu Bagian Mencintai Islaml

 


Gus Baha berpesan untuk tidak menghina Tuhan agama lain jika tidak ingin Tuhan Agamamu dihina /

Ulama ahli tafsir asal Rambang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha angkat bicara soal toleransi antar agama.

Menurut Gus Baha, salah satu cara agar Tuhan agama Islam tidak dihina adalah dengan tidak menghina Tuhan agama lain.

Hal itu disampaikan Gus Baha dalam sebuah pengajian di IAI Tribakti Lirboyo Kediri yang diunggah kanal YouTube Kalam - Kajian Islam pada 2 Agustus 2020.

"Ada bab yang sesuai dengan konteks Indonesia, bab menutup pintu potensi-potensi yang tidak baik," ujar Gus Baha.

Menurut Gus Baha, dalam kitab tersebut, pengarang kitab itu mengutip firman Allah dalam surat Al An'am ayat 108, yakni:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”(QS Al-An’am 108)

"Jadi dulu para sahabat saking semangatnya dalam berislam, itu sering bilang Jancuk Lata (اللات), jancuk Uzza (العُزَّى)," lanjut Gus Baha.

"Jadi ini tidak jauh-jauh dari misuh (menghina), karena sudah dicap ucapan menghina," sambungnya.

Gus Baha melanjutkan, menanggapi ucapan tersebut, mereka mengajukan pertanyaan.

“Kalau tuhan saya jancuk, jancuk juga tuhan kamu," ucap Gus Baha menirukan pertanyaan mereka.

Karena itulah, Allah akhirnya menurunkan ayat yang melarang menghina berhala yang disembah masyarakat saat itu.

"Akhirnya Allah bilang begini, “Muhammad, umatmu beritahu agar tidak menghina berhala, korbannya Aku," beber Gus Baha.

Makanya turunlah ayat dalam surat Al-An'am ayat 108 tersebut yang berisi larangan menghina berhala.

Setelah itu lanjut Gus Baha, Syekh Izzuddin bin Abdissalam yang dikenal dengan Sulthonul Auliya’ membuatkan bab mudah sekali, yakni bab saddud dzara’i.

"Jadi, kalau kamu ingin Allah tidak dipisuhi (dihina) dan Islam tidak disakiti, kamu jangan menyakiti agama lain," jelas Gus Baha.

Ketua Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menyebut hal itu sebagai bagian dari mencintai Islam.

"Jangan kira, kita hormat sama agama lain karena ikrar, tapi itu bagian dari mencintai Islam," ungkap Gus Baha.

Gus Baha juga memberikan contoh yang terdapat dalam hadits tentang larangan memusuhi orangtua atau Bapak.

"Para sahabat kemudian bertanya: bagaimana mungkin seseorang memusuhi bapaknya sendiri?," kata Gus Baha.

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan maksud sabdanya adalah orang itu memusuhi bapak orang lain yang kemudian dibalas dengan orang lain dengan memusuhi bapaknya.

"Sehingga peristiwa khususiyah ini bisa ditarik kesimpulan secara umum, Qur’an dan hadis mengawal kita hingga Hari Kiamat, karena kita tidak kehilangan sebab untuk memaknai quran dan hadits dengan cara yang diajarkan Syekh Izzuddin bin Abdissalam," pungkas Gus Baha.***