Kisah Pilu Seorang Ayah Setelah Anaknya Meninggal, Menangis Sampai Hilang Suara dan Sering ke Makam


 TikTok @iejamohsem

Kisah seorang ayah tak kuasa menahan tangis atas meninggalnya sang anak.

 - Kisah pilu seorang ayah tak kuasa menahan kesedihannya ditinggal anak untuk selama-lamanya viral di media sosial.

Bagaimana tidak, saking sedihnya suara ayah tersebut sampai hilang akibat menangis seharian.

Tak hanya itu, pria yang diketahui bernama Hosen Samur (65) samapi sering datang ke makam.

Bahkan ia bisa sehari dua kali mengunjungi makam.

Dilansir dari Mstar, Hosen Samur tak bisa menahan air matanya saat mengenang anak perempuannya yang bernama Sulistutina.

Diketahui, anak Hosen Samur meninggal akibat kanker usus.

Kisah ini viral setelah dibagikan Khairun Nizam (30) di TikTok.

Rupanya, pengunggah adalah anak ketiga Hosen Samur.

Khairun Nizam pun menceritakan kisah ayahnya setelah enam bulan pertama kepergian sang kakak.

"Saya terkejut, video ini ditonton hampir sejuta orang dalam waktu 24 jam.

Halaman

Saya cuma ingin bercerita tentang situasi sulit yang kami alami setahun lalu," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menceritakan jika kepergian sang kakak membuat duka mendalam di keluarganya.

Bahkan sang ayah sampai terpukul.

Sehari-hari selalu menangis mengenang kepergian sang kakak.

"Yang paling sedih ayah. Sehari-hari selalu menangis.

Setiap hari, dua kali ayah pergi ke makam kakak.

Dalam enam bulan pertama, ia menangis setiap hari," sambungnya.

Menurut pria 30 tahun itu, keadaan itu ternyata memengaruhi kesehatan sang ayah hingga terpaksa mendapat perawatan.

"Pada usia 65 tahun, abah sudah melalui banyak pengalaman berhadapan dengan kematian dalam hidupnya.

Abah punya adik kembar. Adik kembarnya meninggal pada tahun 2012.

Kemudian kematian kakek dan nenek juga.

Perlahan suara abah hilang karena menangis setiap hari setelah kematian kakak.

Dia juga diminta untuk mencegah depresi," paparnya.

Kemudian ia mengatakan jika sang kakak didiagnosis mengidap kanker usus pada akhir tahun 2017 lalu.

"Perasaan saya seperti abah, namun tidak boleh diperlihatkan.

Saya menangis di hadapan keluarga.

Namun di depan anak mendiang, saya tidak boleh sedih.

Abah sudah berangsur pulih, tapi ketika tiba hari raya dan hari lahir kakak, mesti abah menangis," pungkasnya.

(*)