Disorot Dunia, Polisi dan Tentara Gali Korban Erupsi Semeru Pakai Tangan Kosong

 


Kondisi Salah Satu Desa Di Lumajang Yang Tertiimbung Abu Vulkanik Erupsi Gunung Semeru.

Reporter : Sugi

Taufiq menggambarkan bahwa upaya evakuasi korban erupsi Gunung Semeru oleh TNI dan POLRI itu 'sangat mengerikan'.

Dream - Erupsi Gunung Semeru pada Sabtu, 4 Desember 2021, meninggalkan banyak kisah yang membuat mata dunia tertuju pada salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Saat ini, tim gabungan penyelamat yang terdiri dari berbagai unsur seperti TNI dan Polri terus melakukan pencarian korban erupsi Gunung Semeru, baik yang selamat maupun yang sudah meninggal.

Sayangnya, usaha pencarian para korban ini menghadapi banyak kendala. Sebab, permukiman penduduk di kaki Gunung Semeru yang terdampak erupsi telah rata oleh abu vulkanik.

Hingga hari Senin, sudah 22 orang diketahui meninggal sementara yang lainnya mengalami luka-luka akibat terkena awan panas atau Wedhus Gembel Semeru.

TNI dan Polri Gali Korban Erupsi Semeru Pakai Tangan Kosong

Baru-baru ini, seorang sukarelawan bercerita bagaimana mengerikannya erupsi Gunung Semeru, dan dampaknya hingga membuat petugas gabungan TNI dan Polri kesulitan saat melakukan evakuasi jenazah para korban.

Sukarelawan bernama Taufiq Ismail Marzuqi ini bahkan sempat merekam aksi para prajurit TNI dan anggota Polri saat mengevakuasi jenazah korban erupsi Gunung Semeru.

Taufiq menggambarkan bahwa upaya evakuasi jenazah korban erupsi Gunung Semeru oleh TNI dan Polri itu 'sangat mengerikan'.

Bagaimana tidak? Dengan lapisan abu vulkanik yang sangat tebal, para prajurit TNI dan anggota Polri ini harus menemukan para korban yang terpendam.

Mereka menggali setiap jenazah yang ditemukan dengan hanya menggunakan tangan kosong. Padahal abu vulkanik tersebut terkadang masih terasa panas di tangan.

Langit Bagai Malam, Lahar Panas Dikira Banjir Biasa

Sedikitnya 11 desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tertimbun abu vulkanik erupsi Semeru. Di samping korban tewas, terdapat puluhan orang menderita luka bakar.

Seorang warga Dusun Renteng bernama Salim bercerita, erupsi Semeru mengeluarkan lahar panas yang mengalir di dekat permukiman. Warga awalnya mengira yang mengalir itu adalah banjir biasa.

Tidak itu saja, waktu kejadian, langit langsung gelap gulita seperti malam hari. Padahal waktu itu jam masih menunjukkan sekitar pukul 3 sore.

Sepuluh Orang Terseret Aliran Lahar Panas

Beruntung saat Semeru erupsi disertai hujan, sehingga hawa panas dari lahar tidak terlalu menyiksa dan mereka masih bisa bernapas.

"Warga di sini mengira itu hanya banjir biasa. Kami tidak tahu itu lahar panas. Tiba-tiba, langit menjadi gelap disertai hujan dan awan panas. Syukurlah, hujan turun sehingga kami bisa bernapas," kata Salim.

Salim menambahkan saat lahar lewat di desanya, ada 10 orang yang terbawa alirannya. Salah satu dari mereka hampir saja bisa diselamatkan. Tapi dia menyuruh warga lainnya untuk lari karena dia tidak ingin meninggalkan sapi-sapinya.

Gunung Semeru Aktif Sepanjang Masa

Dusun Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, termasuk salah satu wilayah yang paling terdampak erupsi Gunung Semeru.

Gunung Semeru termasuk gunung berapi yang paling aktif sepanjang masa. Gunung ini secara teratur memuntahkan awan panas hingga sejauh 4.300 meter.

Seorang ahli meteorologi di Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia, Campbell Biggs, mengatakan erupsi yang terjadi pada hari Sabtu kemarin merupakan peningkatan intensitas aktivitas Semeru yang cukup signifikan.

Gunung Semeru berada pada ketinggian 3.676 m di atas permukaan laut dan merupakan salah satu dari hampir 130 gunung berapi aktif di Indonesia. Terakhir kali meletus pada Desember 2020, memaksa ribuan warga mengungsi.

Indonesia sendiri terletak di 'Cincin Api' Pasifik tempat bertemunya lempeng benua, hingga sering menyebabkan aktivitas vulkanik dan seismik.