Surono: Awan Panas Itu Kecepatannya Ratusan Kilometer per Jam, Mau Lari ke Mana?!


 Pakar gunung api Surono memperingatkan, guguran awan panas akibat guguran kubah lava Gunung Semeru pasti akan terjadi lagi di masa yang akan datang. (Sumber: Tangkapan layar Kompas TV)

JAKARTA,  - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono menyatakan, awan panas akibat guguran kubah lava Gunung Semeru pasti akan terjadi lagi di masa yang akan datang.

Arah awan panas akibat guguran kubah lava Semeru tersebut, kata Surono, sudah diperkirakan, yaitu ke arah Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.

“Dari dulu itu memang kawasan rawan bencana. Apakah akan kena lagi? Sudah pasti akan kena. Hanya waktunya saja (yang tidak bisa dipastikan),” kata Surono pada Kompas TV, Selasa (12/7/2021).

Surono menjelaskan, guguran awan panas yang terjadi di Semeru saat ini, bukanlah peristiwa erupsi. Menurutnya, lebih tepat menyebut fenomena di Semeru sebagai guguran kubah lava yang menyebabkan guguran awan panas.

Erupsi memang terjadi terus-menerus di Semeru, tetapi tidak membahayakan. Sebab, material yang dilepaskan kembali ke gunung dan membentuk Semeru sehingga menjadi besar.

Tapi, erupsi juga membentuk kubah lava yang dalam waktu lama, bakal tidak stabil. Ketika ada hujan lebat, maka terjadi guguran kubah lava, sehingga material panas di dalamnya keluar berupa gas panas dan menjadi guguran awan panas.

“Kubah lama-lama tidak stabil dipicu hujan itu. Seperti pelumas, akhirnya dia bergerak longsor. Longsor pecah, gas yang di dalam keluar, bergulung-gulung jadi awan panas,” terang lelaki kelahiran Cilacap 66 tahun lalu itu.

Guguran awan panas tersebut, kata mantan kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini, berbeda dengan guguran awan panas yang disebabkan oleh letusan.

“Kalau karena letusan, maka guguran awan panas itu bisa mengarah ke mana-mana seperti di Merapi pada tahun 2010,” kata lelaki yang akrab disapa Mbah Rono ini.

Namun peristiwa saat ini di Semeru, bukanlah karena letusan, melainkan garena guguran kubah lava, sehingga hanya mengarah ke arah tertentu saja sesuai dengan jalur guguran lava.

Dengan demikian, daerah-daerah rawan bencana di Gunung Semeru, sudah jauh-jauh hari dapat dipetakan. Karena itulah, seharusnya daerah-daerah tersebut seharusnya steril dari kegiatan.

“Terserah kalau kita mau ger-geran lagi. Atau kita berani menghadapi kejujuran alam. Mau lari ke mana? Kalau lahar, (kita) masih bisa (lari), belasan kilometer kecepatannya. (Tapi) awan panas itu (kecepatannya) ratusan kilometer, bisa 300 kilometer per jam!" tekannya sungguh-sungguh.

"Kalau Anda juara Olimpiade, bisa lari. Nah, kalau (kejadiannya) tengah malam?! Selesai,” pungkas Mbah Rono.